PENGELOLAAN SAMPAH DI JOGJA

PENGELOLAAN SAMPAH DI JOGJA 

Tumpukan sampah di salah satu depo di Kota Yogyakarta karena TPA Piyungan ditutup, (ANTARA/Eka AR)

     Saat ini Daerah Istimewa Yogyakarta sedang dalam keadaan darurat sampah. Hal ini terjadi karena tempat pengolahan akhir atau TPA regional di Piyungan tidak dapat beroperasi secara maksimal. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang masih bingung bagaimana cara menangani sampah. Tumpukan sampah bermunculan di banyak tempat dan sebagian masyarakat nekat membakar sampah sehingga menimbulkan pencemaran udara. Meski TPA kawasan Piyungan dibuka dalam kapasitas terbatas, namun darurat sampah di beberapa wilayah DIY belum teratasi. Keadaan ini menyebabkan tumpukan sampah dibuang sembarangan di pinggir jalan dan tempat umum. Bahkan, tumpukan sampah bermunculan di Alun-Alun Selatan Yogyakarta. 
    Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Sleman telah mengoperasikan Tempat Penyimpanan Sementara Sampah (TPSS) Tamanmartani sejak Senin (8 Juli 2023). TPSS dengan luas sekitar 3.000 meter persegi itu akan menampung sampah selama TPA kawasan Piyungan tidak beroperasi secara maksimal. TPSS Tamanmartani diperkirakan mampu mengolah 50 ton sampah per hari. Namun, jumlah itu jauh lebih sedikit dibanding jumlah sampah yang dihasilkan di Sleman. Berdasar data Dinas Lingkungan Hidup Sleman, pada Juni 2023, rata-rata jumlah sampah di Sleman yang dibuang ke TPA Regional Piyungan sebanyak 254 ton per hari. 
     Adanya sampah ini menimbulkan berbagai macam masalah. Dalam sudut estetika tata kota sudah pasti akan terlihat buruk, tumpukan sampah membuat tempat menjadi terlihat lebih kumuh dan berantakan. Sangat disayangkan jika para wisatawan yang datang ke Jogja untuk melihat keindahan Jogja, justru mendapatkan pemandangan sebaliknya. Permasalahan lain yang timbul akibat timbunan sampah adalah pencemaran lingkungan. 
    Pencemaran lingkungan yang timbul pertama adalah pencemaran udara. Udara berasal dari limbah padat yang mengeluarkan gas seperti metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2). Senyawa inilah yang menjadi penyebab terjadinya efek rumah kaca akibat pemanasan global. Memburuknya kualitas udara sekitar dan efek rumah kaca dapat meningkatkan suhu dan menyebabkan hujan asam. Tumpukan sampah menimbulkan bau tidak sedap bagi orang disekitarnya. Bahkan ada sebagian sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sampah, namun tetap saja kurang baik karena terkadang sampah tersebut masih tertimbun sehingga gas sabu yang terkumpul tidak dapat keluar. 
    Pencemaran air bisa terjadi karena mengganggunya pengolahan air tanah dan tentunya menjadi kabar buruk karena air tanah penting bagi manusia. Air yang tercemar sangat beresiko bagi manusia. Jika lingkungan sudah terpengaruh oleh dampak buruk tumpukan sampah maka, makhluk hidup disekitarnya pun akan ikut menjadi memburuk. Pada manusia tumpukan sampah akan menimbulkan berbagai jenis penyakit. 
    Sampah dapat menimbulkan penyakit melalui dua cara, yaitu langsung dan tidak langsung. Penularan langsung adalah jalur penularan di mana penyakit ditularkan langsung dari sampah ke manusia. Jalur penularan ini terjadi ketika seseorang bersentuhan langsung dengan sampah yang mengandung kuman, virus, atau parasit. Misalnya saja ketika membuang sisa makanan yang membusuk atau sampah lain yang mengandung patogen dengan tangan kosong dan tidak segera mencuci tangan setelahnya. 
     Sedangkan penularan tidak langsung terjadi ketika sampah menjadi tempat berkembang biaknya hewan penular penyakit seperti nyamuk, lalat, dan tikus. Hewan dan serangga tersebut dapat menjadi inang penularan kuman dan parasit ke manusia. Nyamuk dapat berkembang biak pada genangan air di wastafel atau wadah lain yang tidak dibersihkan. Hal ini dapat mencakup air yang terperangkap di mesin cuci, kaleng, botol, atau wadah lainnya. Contoh penyakit yang disebabkan oleh tumpukan sampah adalah disentri, wabah penyakit, dan demam berdarah. 
     Disentri adalah peradangan pada usus yang menyebabkan diare disertai darah atau lendir. Diare sendiri ditandai dengan buang air besar yang sering, encer, atau encer. Kondisi ini terjadi karena amuba dan bakteri banyak ditemukan pada sampah yang berserakan. Bakteri penyebab disentri juga dapat menular ke manusia melalui kontak langsung dengan bakteri yang ada pada tinja (seperti tidak mencuci tangan dengan bersih setelah buang air besar). Bakteri ini juga bisa menyebar melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. 
     Wabah disebabkan oleh bakteri Yersina pestisia, yang ditularkan melalui tikus dan hewan pengerat lainnya. Biasanya wabah ini menyebar di wilayah yang padat penduduk dan kebersihannya buruk sehingga sampah berserakan dimana-mana. Oleh karena itu, risiko penyakit ini bisa meningkat akibat wasting. Selain itu, penularan juga bisa terjadi jika Anda bersentuhan langsung atau digigit hewan tertentu. 
    Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue. Dahulu penyakit ini disebut penyakit “patah tulang” karena terkadang menyebabkan nyeri sendi dan otot sehingga tulang tampak retak. Nyamuk demam berdarah sering berkembang biak di tempat-tempat yang banyak air dan sampah menumpuk. 
    Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah. Masyarakat perlu mulai mengelola sampahnya sendiri dengan memilahnya sebelum dibuang ke TPA. Pemerintah Kota Yogyakarta menggalakkan gerakan Mbah Dirjo atau pengolahan sampah Biopori ala Jogja. Dengan gerakan ini, Kota Yogyakarta menghimbau masyarakat untuk mengelola sampah organik melalui biopori. Mbah Dirjo atau Pengolahan Sampah dengan Biopori Ala Jogja merupakan sebuah gerakan yang mengajak masyarakat untuk mengelola sampah organik melalui biopori, baik secara mandiri, di tingkat rumah tangga, maupun secara komunal, dengan biopori raksasa. 
    Untuk mengurangi timbulan sampah secara keseluruhan, warga kota Jogja perlu segera menerapkan pengelolaan sampah organik secara besar-besaran, dimulai dari tingkat rumah tangga. Gerakan Mbah Dirjo dipilih agar sampah organik bisa diolah langsung di sumbernya. Sebanyak 614 bank sampah yang berpusat di Kota Yogya telah menerapkan gerakan biopori atau Mbah Dirjo dengan tujuan untuk mengurangi sampah organik. Ukuran biopori terbagi menjadi tiga, yaitu biopori raksasa dengan luas 1 meter persegi, biopori rata-rata 0,5 meter persegi, dan biopori kecil yang dapat disesuaikan dengan lahan milik masing-masing rumah warga. Hasil pengolahan sampah organik dapat dikatakan juga dapat mendatangkan berbagai manfaat. 
    Bagi masyarakat mandiri, kita dapat mengurangi sampah dengan cara menghindari sampah. Semakin banyak produk rumah tangga yang dibeli, semakin banyak pula sampah yang dihasilkan. Jadi, belilah makanan atau perlengkapan rumah tangga secukupnya dan pilihlah produk dengan kemasan yang paling sederhana. Cara kedua dengan menggunakankembali sampah dengan memanfaatkan kembali barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi. Misalnya saja mengubah kaleng bekas menjadi pot bunga atau celengan, atau mengubah pakaian bekas menjadi kain perca dan keset.  Cara ketiga dengan memanfaatkan barang bekas yang masih bisa digunakan dan daur ulang menjadi barang baru yang hemat dan berguna. Misalnya membuat keranjang atau tas dari kumpulan bungkus kopi, koran daur ulang, dan sebagainya. Cara terakhir dengan membuat kompos. Daripada membakar sampah dan mencemari udara, ubah sisa makanan dan daun menjadi pupuk bagi tanaman Anda. Faktanya, saat ini terdapat banyak tempat di mana plastik rumah tangga dapat dengan mudah didaur ulang menjadi produk rumah tangga yang lebih bermanfaat. 
    Jika seluruh masyarakat dan pemerintah dapat bekerjasama dalam melakukan pengelolaan sampah dengan baik dan benar. Maka, masalah sampah di Kota Jogja akan terselesaikan. Kebiasaan baik ini akan dapat menjadi budaya bagi masyarakat yang dapat memberi manfaat baik untuk lingkungan.

Komentar